BAPPERIDA DAN DINKES PPKB KAB.HSS PERKUAT INOVASI KIA “SI GAWI BAIK” BERLANDASKAN REGULASI NASIONAL

KANDANGAN – Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Selatan (Pemkab HSS) terus menegaskan komitmennya dalam mentransformasi pelayanan kesehatan primer. Melalui kolaborasi Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bapperida) HSS, Dinas Kesehatan HSS, dan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Pemkab HSS mematangkan rancang bangun inovasi SI GAWI BAIK (Sistem Gerakan Warga Peduli Ibu, Anak, dan Stunting). 

Langkah transformatif ini disusun tidak hanya sebagai solusi masalah lapangan, tetapi juga berlandaskan payung hukum yang kuat serta kerangka teknis yang terukur. 

Landasan Hukum dan Kerangka Regulasi

Rancang bangun program inovasi SI GAWI BAIK berdiri di atas landasan hukum yang kokoh dari tingkat nasional hingga daerah: 

  1. UU No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan: Mengamanatkan pelayanan kesehatan esensial sepanjang siklus kehidupan secara bermuta, merata, dan berkeadilan. 
  2. UU No. 23 Tahun 2014 jo. UU No. 6 Tahun 2023 tentang Pemerintahan Daerah: Menjelaskan bahwa urusan kesehatan merupakan pelayanan dasar wajib pemerintah daerah. 
  3. Perpres No. 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting: Dasar aksi konvergensi lintas sektor penurunan stunting. 
  4. Permenkes No. 21 Tahun 2021: Standar pelayanan masa sebelum hamil, hamil, persalinan, hingga sesudah melahirkan. 
  5. Permenkes No. 2 Tahun 2020: Standar antropometri pengukuran status gizi anak. 
  6. Permendagri No. 59 Tahun 2021: Penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan. 
  7. RPJMN 2025–2029 & Renstra Kemenkes 2025–2029: Prioritas nasional pada transformasi pelayanan primer, penurunan kematian ibu-anak, dan stunting. 
  8. RPJMD & Renstra Dinas Kesehatan Kabupaten HSS: Integrasi sasaran strategis daerah ke dalam perencanaan indikator kinerja pelayanan KIA. 

Inventarisasi 23 Inovasi Pelayanan KIA & Puskesmas se-Kabupaten HSS

Dalam kerangka program SI GAWI BAIK, seluruh Puskesmas dan jajaran Bidang Dinas Kesehatan di Kabupaten HSS melahirkan 23 inovasi spesifik yang saling terintegrasi untuk menyelesaikan akar masalah KIA di wilayahnya masing-masing: 

  1. PERI CETING (Peran Dokter Gigi Cegah Stunting)Puskesmas Kaliring: Pelayanan pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut bagi ibu hamil dan balita guna memutus rantai infeksi rongga mulut dan malnutrisi. 
  2. TAWA STUNTING (Tanggulangi Bersama Wasting dan Stunting)Dinkes / Puskesmas Padang Batung: Kolaborasi lintas program dan lintas sektor (PKK & Desa) dalam penyuluhan serta kelas gizi balita. 
  3. Polisi ASI (Poli Laktasi untuk Optimalisasi Pemberian ASI Eksklusif)Puskesmas Kandangan: Layanan khusus konseling dan pendampingan laktasi bagi ibu hamil dan nifas untuk mencegah stunting. 
  4. SIMPEN BUMIL RESTI (Sistem Pendampingan Ibu Hamil Resti)Puskesmas Telaga Langsat: Skrining trimester pertama, pemantauan intensif, dan pembuatan grup WhatsApp khusus ibu hamil risiko tinggi. 
  5. PRO-HERO (Protein Hewani dalam Edukasi Rupa dan Optimalisasi Visual)Puskesmas Gambah: Edukasi gizi visual interaktif menggunakan media digital/layar monitor ruang tunggu serta infografis pangan lokal (ikan haruan, patin, telur). 
  6. Kode SMS BU SUSI (Sadar Masalah Stunting Bumil Sadar Menyusu Sejak Dini)Puskesmas Angkinang: Penggerakan kesadaran IMD dan ASI eksklusif melalui koordinasi nakes, keluarga, serta edukasi SMS/WhatsApp. 
  7. LAP4T TBC (Layanan Pemeriksaan, Pengawasan kePatuhan dan Pengantaran obaT TBC)Puskesmas Malinau: Pelayanan langsung ke rumah pasien TBC dan pengawasan minum obat berbasis kader desa. 
  8. PESONA BUMIL CHANTIK (Pemantauan, Edukasi dan Solusi Bumil Risti Melalui Chatting)Puskesmas Jambu Hilir: Pemantauan tekanan darah harian hulu-hilir, reminder kontrol via WhatsApp, serta penyediaan tensimeter dari inventaris desa. 
  9. LAHAP (Layanan Atasi Stunting: Hidangan Pangan Lokal & Asupan Vitamin Penambah Nafsu Makan)UPTD Puskesmas Bamban: Kombinasi vitamin penambah nafsu makan (lisin) dan PMT pangan lokal untuk balita stunting. 
  10. CODE AMAN IBU CERMATPuskesmas Baruh Jaya: Barcode daftar keamanan obat di meja periksa nakes serta Buku Saku Digital berbasis barcode untuk edukasi obat ibu hamil/menyusui. 
  11. CEMARA MPE (Keluarga Mendukung Pencegahan Anemia Remaja Putri)Puskesmas Negara: Edukasi konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) bagi remaja putri dengan pendekatan peer educator dan dukungan keluarga. 
  12. BIDADARI IDAMANPuskesmas Bayanan: Bidan siap jemput, dampingi, dan antar pasca-melahirkan, didukung ketersediaan ambulans desa/air serta rumah singgah sementara. 
  13. LUCUT (Link Usulan CUTi)Puskesmas Simpur: Inovasi internal tata usaha berbasis digital untuk efisiensi pengusulan cuti pegawai puskesmas. 
  14. TUNTANG KAS PTM (Tuntas Tanggulangi Kasus PTM)Puskesmas Sungai Raya: Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Hipertensi, DM, Jantung) melalui buku monitoring harian dan penyediaan alat ukur tekanan darah di tingkat RT. 
  15. MELATI (Monitoring, Edukasi, dan Layanan Terintegrasi Ibu Hamil)Puskesmas Sungai Pinang: Pendampingan Bumil Resti menggunakan Kartu Siaga Bumil terintegrasi grup WhatsApp. 
  16. Stiker Tanting (Stiker Balita Stunting)Puskesmas Batang Kulur: Labeling stiker barcode unik pada Buku KIA/rumah balita sebagai KTP digital pemantauan gizi dan MPASI lokal. 
  17. GAPURI (Gerakan Pelayanan Kunjungan Rumah Terintegritas)Puskesmas Wasah: Kunjungan rumah terpadu oleh Tim Promkes, Bidan, dan Nutrisinis untuk edukasi dan pendampingan keluarga berisiko. 
  18. SAPA-QR (Survei Kepuasan Pasien Melalui QR Code)Puskesmas Wasah: Transformasi digital survei kepuasan pasien secara real-time berbasis QR Code di area pelayanan. 
  19. SIGAP BBLR (Sistem Gerakan Antisipasi Pencegahan BBLR)UPTD Puskesmas Kalumpang: Skrining kategori risiko kehamilan sejak ANC, penandaan stempel Buku KIA, serta intervensi kunjungan rumah maksimal 7 hari pasca-skrining. 
  20. SAKTI (Senam Kaki Tangkal Infeksi)UPTD Puskesmas Kalumpang: Edukasi pencegahan neuropati diabetikum bagi penderita Diabetes Mellitus melalui video dan leaflet senam kaki. 
  21. SI ROKET GIGIUPTD Puskesmas Bajayau: Sistem pendampingan dan reminder jadwal kontrol pasca-tindakan gigi berbasis WhatsApp untuk menjamin continuity of care
  22. ANTER CATIN MANISUPTD Puskesmas Bajayau: Pelayanan terpadu calon pengantin melalui kolaborasi Puskesmas, KUA, PLKB, TPK, dan Desa untuk edukasi reproduksi serta skrining pranikah. 
  23. CERDAS (CEgah anemia Remaja DAn Stunting)UPTD Puskesmas Pasungkan: Kampanye body image positif, edukasi gizi seimbang sekolah, serta aktivasi Posyandu Remaja berbasis kader sebaya. 
  24. GARPU CINTA SEHATIUPTD Puskesmas Simpur: Gerakan peduli stunting dari intervensi hulu (Catin wajib cek LILA & Hb di KUA), pengawalan 1.000 HPK, hingga Posyandu Mobile
  25. GEMAR BU RISTI (Gerakan Masyarakat Peduli Ibu Hamil Risiko Tinggi)Bidang Kesprimkom Dinkes HSS: Gerakan masyarakat berbasis deteksi dini, penandaan register khusus, pendampingan kader, serta pemetaan rujukan cepat. 
  26. HSS TUNTAS STUNTINGBidang Kesprimkom Dinkes HSS: Standardisasi PMT protein hewani lokal (telur, ikan haruan/patin khas HSS) dan susu yang dipantau melalui Kartu Kendali harian. 

Sembilan Tahapan Penyusunan & Implementasi Sistem

Rancang bangun program SI GAWI BAIK dilaksanakan melalui 9 tahapan terstruktur: 

  1. Identifikasi Masalah: Evaluasi data epidemiologi KIA dan stunting HSS. 
  2. Analisis Akar Masalah: Pendekatan Fishbone (5M+Environment) dan SWOT. 
  3. Perancangan Model Inovasi: Penyusunan kerangka solusi aktif (active case-finding). 
  4. Penyusunan SOP: Pembakuan standar operasional pendataan, skrining, notifikasi, kunjungan rumah, hingga rujukan. 
  5. Penguatan Kapasitas SDM: Pelatihan terpadu bagi dokter, bidan, perawat, nutrisionis, sanitarian, kader posyandu, TPK, dan aparatur desa. 
  6. Implementasi Pilot Project: Uji coba lapangan pada desa/puskesmas prioritas dengan angka risiko tinggi. 
  7. Monitoring Berbasis Dashboard: Pemantauan indikator kesehatan ibu, bayi, dan balita secara real-time berbasis grafik aman (hijau), waspada (kuning), dan bahaya (merah). 
  8. Evaluasi dan Audit Program: Evaluasi berkala triwulan/tahunan berbasis Audit Maternal Perinatal (AMP) dan Audit Kasus Stunting. 
  9. Replikasi dan Pengembangan: Perluasan skala ke seluruh puskesmas di Kabupaten HSS serta penguatan regulasi melalui Peraturan Bupati dan APBD/Dana Desa. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas